Ternyata menjadi PPDS Mata itu tidak hanya harus “pintar” di akademis dan keterampilan saja.
Inilah yang kutemui … dan nyatanya baru kusadari … setelah ‘ kecemplung ‘ di dunia baruku ini.
Emangnya mesti bisa apa aja ???
Yaaachhh … semua yang DIPERINTAHKAN laaaahh …
Apa aja kudu bisa …
misalnya jadi :
1. Fotografer : memfoto tiap pasien buat laporan pagi, en ga ada alasan gaptek, musti bisa pake kamera digital yang memfokuskan gambar dari jarak dekat, mindahin data secepat kilat, jadi dalam sekejap … yaaahhh paling lama siang nanti udah jadilah.
2. Cameraman : nge-shoot operasi orbita or katarak, sampe tuh video muncul di saat laporan pagi nanti.
3. Komedian : kudu bisa ngelawak, jadi pemain drama, jadi penulis skrip termasuk rekaman dan membuat suatu drama lengkap sampai selesai, percis kayak bikin film beneran.
( ini benar2 pengalamanku yang paling menarik dan menantang )
4. Termasuk ngeset sound sistem kudu bisa.
5. Kudu wajib bisa komputer, termasuk membuat slide2 ‘ indah ‘ seperti diseminar2.
6. Belum lagi kalo udah ada acara, selain sekolah, kudu bisa ngerangkap jadi Sekretaris super cepat, shopacholic super hemat dan orang paling tanggap …..
Aku masuk siklus sudah sejak Juli. Dan dalam kurun waktu 3 bulan tersebut telah banyak acara di gelar.
Termasuk diantaranya :
- Safari Katarak bareng SCTV
- Family Gathering
- Buka puasa bersama di rumah KPS
- Safari Ramadhan di rumah Direktur RSSA
- Buka bersama PPDS
Hhhh …. semua kulalui
dan Alhamdulillah, hal ini lambat laun menyembuhkan salah satu “penyakit” lamaku yang pada akhirnya sering menyebabkanku berada dalam masalah.
yaitu … menunda
Kadang stressor yang berat dan beban tanggung jawab yang dipikul membuatku jadi ‘ agak ‘ lebih tanggap dan bertanggung jawab.
Suatu hal sepele yang dapat berdampak besar dikehidupan mendatang.
Sebagai seorang dokter spesialis yang profesional sudah seharusnya memiliki rasa tersebut pada setiap pasien2nya bukan.
Memang segala hal disini membawa hikmah.
Ehhh… ini bukan berarti, kita yang masih junior kerjaannya cuma begituan doank.
Hal2 akademis dan keterampilan klinis tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Dalam waktu 2 bulan sudah harus mahir slitlamp, tindakan dan siap untuk jaga malam.
Kadang ada yang mahir karena didikannya ‘keras’ kayak jaman penjajahan Belanda …
Ada juga yang bisa karena biasa …
Yaaaahhh gitu deh
ikut kemana angin bertiup
asal bukan …. angin topan yang ngerusak aja … hehehehe
Hmmm …. cinta nan tulus tak berharap balas
Jujur deh …. kalo kita emang bener-bener cintaaaaaaaaa banget ama lawan jenis, mungkinkah tak ada perasaan sedikit pun berharap terbalas cintanya ?
Pasti ada ….
Trus kalo kita memang berharap terbalas, apakah itu dianggap cintanya tidak tulus ?
Menurut saya …
( sekali lagi ini menurut saya lhooo …. )
Kata-kata CINTA NAN TULUS TAK BERHARAP BALAS lebih cocok untuk hubungan antara orang tua dan anaknya, antar saudara. Yaahh yang seperti itu-lah.
Mereka saling mencinta tapi dalam bentuk “cinta” yang berbeda.
Ga sama khan dengan bentuk cinta terhadap lawan jenis ?!
Pada bentuk cinta seperti ini kata2 tersebut cocok disematkan.
Tapii …. kalo cinta terhadap lawan jenis tentunya berbeda.
lebih beragam “taste”nya, karena terlalu banyak “bumbu” di dalamnya.
Namun hal-hal tersebutlah yang membuatnya terasa “berbeda” …. setiap kali kita merasa jatuh cinta.
( cieeeeee …. )